Halaman

Senin, 16 April 2012

Konser Kidung Abadi Chrisye

 Sumber gambar: google.com
Awal April lalu aku mendengar kabar bahwa Chrisye akan mengadakan konser. Sesaat tentu aku langsung sanksi. Chrisye akan melakukan konser? Apakah mungkin? Aku juga sempat berpikir bahwa konser yang akan dilakukan adalah sebuah konser tribute, jadi yang menyanyi ya penyanyi selain Chrisye tapi membawakan lagu-lagu milik Chrisye. Menurutku, agak membosankan jika memang akan seperti itu.

Rasa penasaran terus mengawan di pikiranku. Aku berkhayal bahwa konser yang bertajuk Kidung Abadi itu benar-benar dibintangi oleh Chrisye sendiri, Chrisye menyanyikan lagu-lagunya yang luar biasa dan melakukan interaksi dengan para penonton. Ya, seperti konsernya terdahulu yang kulihat sewaktu masih kanak-kanak (kalau tidak salah disiarkan di Indosiar). Aku masih ingat, kharismanya begitu hebat ketika berada di atas panggung. Suaranya khas dan berbeda dari penyanyi lain. Tidak pernah aku mendengar suara seindah dan sefleksibel itu. Bayangkan saja, anak berusia 6 tahun sudah merasa begitu kagum dan jatuh cinta pada Chrisye saat pandangan pertama. Benar-benar luar biasa. Itulah pertama kalinya aku mengenal Chrisye dan langsung mengaguminya.

Kembali ke bahasan awal, Kidung Abadi benar-benar menyita perhatianku. Yang aku dengar, akan digunakan teknologi audio-visual yang canggih untuk memeriahkan konser yang diselenggarakan pada 5 April 2012 ini. Hmmm, aku semakin penasaran.

Seminggu berselang dari perhelatan Kidung Abadi. Aku sangat berharap akan ada stasiun TV yang menayangkannya. Hingga tidak sengaja pada saat memindahkan channel ke Metro TV, aku melihat iklan perhelatan JCC itu. Yap, 14 April 2012, konser itu akan ditayangkan di Metro TV. Waaahhh, saat itu aku tidak sabar untuk menantikannya (^-^).

Sejak pukul 9 malam, aku sudah bersiap di depan TV dan langsung menuju Metro TV. Rasa deg-degan menyelimutiku malam itu dan terbayang kehebatan konser sang Maestro. Setelah menunggu sambil menghabiskan es teh, akhirnya jam menunjukkan pukul 9.30 malam. Yap, acara yang dinanti pun dimulai (meskipun tidak tepat 9.30 malam, hehe).

Aku terkesan dan setuju dengan perkataan Erwin Gutawa saat sambutan. Erwin Gutawa berkata, "Hanya orang besar yang bisa mengumpulkan banyak orang ketika dia sendiri sudah tiada." Yup, itulah Chrisye, orang besar yang telah tiada, tapi tetap hidup di hati para penikmatnya. Seperti peribahasa, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Bayangkan saja, JCC yang seluas itu bisa penuh dengan para penonton yang ingin menyaksikannya. Setelah sambutan, ditampilkan instrumentasi lagu-lagu Chrisye yang diberi nama Chrisymphony. Benar-benar merinding mendengarnya.

Lagu demi lagu kunikmati. Hingga sampai di satu segmen yang menampilkan lagu yang liriknya diciptakan oleh Gita Gutawa, lagu dan musik oleh Erwin Gutawa. Erwin Gutawa berkata bahwa lirik lagu ini terdiri dari rangkaian 246 suku kata dari ratusan lagu master suara asli Chrisye. Sesaat aku berpikir, "Master suara Chrisye? Berarti potongan lirik lagu yang sudah ada dan berbeda diedit sedemikian rupa terus menghasilkan lagu baru dong?".. Hmmmm, aku semakin penasaran. Seusai speech-nya, Erwin Gutawa memulai aksinya. Betapa merindingnya aku ketika alunan orchestra berpadu dengan suara Chrisye yang lembut itu. Benar-benar asli Chrisye banget, seolah-olah Chrisye memang sedang berada di situ dan menyanyi secara langsung. Apalagi setelah aku melihat video yang diunggah oleh salah satu penonton di youtube. Aku melihat hologram figur Chrisye di layar utama. Ya Tuhan, sungguh seperti Chrisye, mirip, tanpa cacat. Konsep yang ditawarkan bahwa seolah Chrisye bernyanyi dari surga terealisasikan dengan sangat baik. Kemampuan mengolah audio dan videonya luar biasa. Memang, ini mungkin merupakan hal biasa di luar negeri, tapi menurutku tetap luar biasa, apalagi yang difigurkan itu adalah Chrisye, Sang Maestro. Kalau mau melihat videonya, bisa dilihat di bawah ini. 

 Sumber: http://www.youtube.com/watch?v=pmHiX03rNTI

Ketika melihat dan mendengar lagu Kidung Abadi, aku meneteskan air mata. Air mata itu mengalir tanpa henti. Aku benar-benar kangen pada sosok Chrisye. Sampai saat ini aku belum menemukan sosok penyanyi yang sangat berkarakter sepertinya. Aku benar-benar merasakan bahwa dia bernyanyi langsung dari surga. Menyanyi dengan sepenuh hati dan seolah berkata bahwa kami akan tetap bisa bernyanyi bersama dengannya. Hal lain yang membuatku menitikkan air mata adalah ketika di closing, Chrisye berkata, "Jumpa lagi, jumpa lagi." Kalimat itu diucapkan berulang-ulang seolah-olah Chrisye sangat ingin berjumpa kembali dengan orang-orang yang dikasihinya. So sweeeeet :').

Chrisye, meskipun kau telah tiada, namun figur dan suaramu tetap ada di ingatan dan hatiku. Bahagialah di surga, doaku selalu menyertaimu :-).


NB:
  1. Aku berusaha mendengarkan setiap kata dari lagu Kidung Abadi, ya mungkin karena mendengarkan dari rekaman jadi tidak terlalu jelas sehingga dimungkinkan ada kesalahan. Mohon maaf kepada semua pihak jika terjadi kesalahan, ya. Hehe, aku hanya manusia biasa :-). Nah, kalau mau tahu liriknya, bisa dilihat di sini.
  2. Kalau belum sempat melihat acaranya di televisi, bisa melihatnya sekaligus mengunduh videonya di sini.



Istiqomah Dian
Surabaya, 16 April 2012

read more “Konser Kidung Abadi Chrisye”

Selasa, 27 Maret 2012

27 Maret


Selamat ulang tahun, HN ucapkan.
Selamat panjang umur, HN kan doakan.
Selamat sejahtera, sehat sentausa.
Selamat panjang umur dan bahagia.

Sepenggal lagu sederhana itu mengawali indahnya 27 Maret. Pukul 12 malam tepat ucapan "Selamat ulang tahun", doa, dan pengharapan datang silih berganti seolah tak akan pernah berhenti. Sebuah nama di balik 27 Maret mampu menyatukan hati Hudsonation. Kemeriahan tahun baru pun seolah terkalahkan oleh 27 Maret.

Tanpa banyak kata, kuucapkan "Selamat ulang tahun" untukmu kakakku, kakak kami semua, Hudson Prananjaya. Semoga Tuhan selalu memberkatimu... :)



Istiqomah Dian Kartini
27 Maret 2012
read more “27 Maret”

Rabu, 14 Desember 2011

Sweetest Experience part II


Minggu, 11 Desember 2011, sekitar pukul 13.30
Setelah kurang lebih 1 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di rumah makan “Bu Tini” dan segera memesan beberapa makanan dan minuman. Dan jujur lagi, pandanganku tidak berpaling dari lelaki berbaju putih dengan rambut merahnya itu, apalagi setelah dia melihat ke arahku dan tersenyum padaku ketika dia sedang makan. Ya Tuhan, bahagianya, hohohoho. Aku baru tau, ternyata kalau makan, dia agak beringas, hihihihihihi, tapi teteup ganteng. Pada saat itu dua deret meja digunakan oleh keluarga besar mas Hudson. Hmmmm, aku baru tau ternyata anggota keluarganya banyak banget. Budhe (mamanya mbak Onya) memberitahukan kepadaku siapa-siapa saja yang ada di sana. Cihuuii, menambah pengetahuan tentang si talent nih, hihihihi.

Ketika kami baru saja memesan, mas Hudson sudah selesai makan dan segera mencuci tangan. Setelah itu tanpa di sangka, mas Hudson menuju ke Hafiz yang saat itu sedang disuapi oleh mbak Onya dan mbak Ade. Aku yang berada di sebelah mereka berdua langsung deg-degan. Lalu setelah menghampiri Hafiz, mas Hudson duduk di kursi kosong yang berada tepat di sebelah kananku. Ya Tuhan deket banget. Meskipun sudah bertemu beberapa kali sebelumnya, tapi aku tetep aja speechless kalo dideketin sama dia. Hahaha, aku Cuma bilang, “Udah kenyang nih mas?”. Aduuuuuh, kesempatan emas yang terlewat, padahal aku punya pertanyaan buat dia. Setelah cukup lama duduk di sebelahku, dia kembali ke tempat duduknya dan berkumpul dengan teman-temannya yang lain, dan aku? Makaaaaan………




Selesai makan, aku diajak oleh mbak Onya untuk mampir ke rumahnya mas Hudson. Ya Tuhan, berasa mau pingsan beneran. Huhuhuhu, akhirnya aku akan ke rumahnya seniman itu. Kebetulan rumah mas Hudson tidak jauh dari rumah makan yang kami singgahi itu. Setelah sampai di depan gang, kami segera turun dari mobil. Aku kira rumahnya jauh dari gang, tapi ternyata, hanya beberapa langkah setelah menuruni tangga, aku sudah sampai di rumahnya. Kesanku ketika masuk ke rumahnya adalah…. Buaguuuuuus bangeeeeet.. Konsep bangunannya tidak jauh berbeda dengan konsep bangunan masjid yang dibangunnya. Sederhana, klasik, tradisional jawa, tapi terlihat mewah. Aduuuuh, jadi betah di rumahnya. Jujur! Aku jadi lebih leluasa melihat mas Hudson di rumah itu, ya sekaligus jadi tau kalau dia di rumah seperti apa, hehehehe (piss mas). Bener-bener nggak percaya kalau aku bisa sedekat itu dengan mas Hudson dan keluarganya. Keluarganya pun terlihat sangat welcome kepadaku. Aku lebih banyak diam ketika di rumah itu, karena memang belum terlalu kenal dengan anggota keluarganya. Sama mbak Poppy, Anggun dan Advent aja hanya kenal lewat Facebook dan Twitter.

Ketika di rumah itu, aku melihat ada 3 anjing yang dipelihara oleh keluarga mas Hudson, tapi aku hanya mengenali salah satu anjing saja. Namanya Hello, anjing kecil berwarna putih (nggak tau ras-nya) yang saat itu sedang hamil. Hohohoho. Canda dan tawa juga tercipta di rumah itu…

Setelah lama mengobrol, kurang lebih pukul 15.30, kami berpamitan untuk pulang. Mas Hudson menuju teman-temannya di hotel, sedangkan aku, mbak Onya, mbak Ade dan Budhe kembali ke tempat penginapan kami masing-masing. Ya Tuhan, hari itu menjadi hari paling bersejarah dalam hidupku. Meskipun banyak menghadapi rintangan untuk mencapainya (termasuk dompet yang tertingal, hihihi), tetapi akhirnya tercapai juga. Terima kasih Tuhan, atas bantuan-Mu. Aku juga sangat berterimakasih kepada orang-orang hebat yang membantuku selama di Jogja, terutama pada Ika dan mbak Ika. Tanpa mereka berdua, aku nggak tau harus bagaimana, asseeekk…… Kenangan terindah ini tidak akan pernah terlupakan, that’s the best day ever in my life.
read more “Sweetest Experience part II”

Sweetest Experience part I


Minggu, 11 Desember 2011...
Sekitar pukul 04.30, mbak Ika membangunkanku untuk sholat Subuh. Tapi aku berkata bahwa aku tidak melaksanakan sholat karena sedang “berhalangan”. Nah, karena mataku ini terasa seperti sedang direkatkan dengan lem akhirnya aku kembali tidur, padahal aku sudah janjian dengan mbak Onya untuk menuju Bantul, hehehe. Mendengar ponselku yang berbunyi, aku segera terbangun. Setelah aku lihat ternyata SMS itu dari mbak Onya yang mengatakan bahwa dia tidak jadi berangkat dari Sayidan. Tidak disangka, tidak dinyana, ternyata pada saat itu sudah pukul 07.00. Sesaat itu juga aku segera menelepon mbak Onya dan akhirnya kami janjian di tempat kos mbak Onya yang ternyata tidak jauh dari tempat kosnya mbak Ika. Aku segera minta izin mbak Ika untuk mandi. Setelah mandi, mbak Onya meneleponku dan mengatakan bahwa mereka harus segera berangkat, aku pun diminta untuk segera menyusul mbak Onya di tempat kos-nya. Waduuuuh, aku segera memakai baju dan berangkat tanpa menggunakan make-up (walaupun itu hanya bedak), alhasil ketahuan kalau aku ini item, hihihihi. Mbak Ika segera mengeluarkan sepeda motornya dan mengantarku ke tempat tujuan.

Ketika sampai di belakang fakultas teknik, aku dan mbak Ika yang notabene bukan asli Jogja bingung untuk menentukan arah yang benar. Entah merasa bahwa aku ini nyasar atau bagaimana, mbak Onya meneleponku lagi, tapi kali ini yang berbicara seorang laki-laki. Mengetahui bahwa aku sedang bingung, akhirnya mas-mas itu memintaku untuk menunggu mbak onya di bank BRI Gejayan. Oke, akhirnya aku dan mbak Ika segera mencari bank BRI, tapi yang kami temukan hanya BRI Syariah. Kami menunggu sekitar 5 menit, antara yakin dan tidak yakin kami tetap menunggu. Di sela kegiatan menunggu itu, aku melihat sebuah taksi yang keluar dari sebuah gang yang berada di depan. Aku dan mbak Ika mempunyai firasat bahwa mbak Onya ada di dalam taksi itu, tapi aku tidak menggubrisnya, hehehe. Tidak lama kemudian mbak Onya meneleponku dan menanyakan keberadaanku. Aku menjawab bahwa aku sedang menunggu di BRI Syariah. Eeeeehhh, ternyata kami salah bank, haduuuuhh. Mbak Onya segera memintaku untuk memutar arah. Dan ternyata, bank BRI yang dimaksud itu berada di dekat jalan untuk memutar arah. Aku langsung berpikir, “Ah, ternyata firasatku sama mbak Ika bener!”. Tidak jauh dari tempat kami memutar arah itu, aku melihat mbak Onya berada di samping taksi yang sama seperti taksi yang keluar dari gang itu. Huhuhu, firasat ini selalu kuingkari.

Aku berpamitan dan berterimakasih kepada mbak Ika yang telah mengantarku lalu menuju taksi berwarna putih itu. Aku diminta mbak Onya untuk duduk di kursi penumpang bagian depan. Ternyata di dalam taksi itu tidak hanya mbak Onya saja, tetapi juga ada mbak Ade dan mamanya mbak Onya. Mbak Onya juga membawa anaknya, Hafiz yang lucu itu, hihihihi. Selama di perjalanan kami saling mengobrol, dan aku baru tau kalau mamanya mbak Onya ternyata berasal dari Surabaya, selain itu sesekali aku bermain dengan Hafiz.
Jalanan Jogja pada saat itu ramai lancar. Kami menuju Bantul dengan melewati Malioboro. Ketika sampai di Sayidan, mbak Onya dan mbak Ade menunjuk salah satu gang dan memberitahukan bahwa itu adalah gang rumahnya mas Hudson. Oke, perjalanan pun berlanjut. Setelah sampai Bantul, mbak Onya yang lupa lokasinya segera menelepon salah satu anggota keluarga (kalau nggak salah yang ditelepon itu mbak Poppy) dan menanyakan nama daerah tempat dibangunnya masjid itu. Mbak Poppy berkata bahwa lokasi dibangunnya masjid itu berada di daerah Kadirojo. Mbak Onya segera mengatakannya kepada pak supir dan pak supir mengatakan, “Oke.”. Nah, karena mbak Onya dan mbak Ade benar-benar bingung dan lupa, alhasil kami pun nyasar dan berbalik arah setelah tau bahwa kami salah jalan. Waahhh, nyasarnya nggak tanggung-tanggung, jauh banget mungkin sekitar 4 km atau lebih. Akhirnya setelah tanya sana-sini, kami pun menemukan lokasi pas-nya. Hah, Alhamdulillah yah…

Ketika kami semua turun dari taksi, kami disambut oleh para panitia peresmian masjid tersebut. Hihihihi, aku sempet merasa lucu juga sih karena aku kan bukan anggota keluarganya, tapi yaaa, ga papa lah. Kami semua berjalan melintasi karpet berwarna merah dan para panitia mendampingi kami untuk menuju tempat duduk yang masih kosong. Jujur, pada saat itu aku langsung mencari mas Hudson, hehehe. Dengan segera pandanganku tertuju pada pria berbaju putih berkalung bunga melati dengan rambut berwarna kemerahan, dan taraaaaaaa, itulah si talent. Tanpa banyak basa-basi aku segera mengeluarkan kameraku dan turun langsung ke lapangan untuk mendokumentasikan segala kegiatan yang sedang berlangsung, termasuk mendokumentasikan foto-foto bangunan masjid Sayyidah Qowwiyah. Oya, Sayyidah Qowwiyah sendiri memiliki arti “Wanita Perkasa/ Kuat”, sesuai memang dengan figur mamanya mas Hudson. Ketika mas Hudson sedang diam, aku menghampirinya dan memfotonya, sebenarnya sih pengen foto bareng, tapi malu karena dia membawa banyak teman, lagian aku juga sudah pernah foto sama dia, hehe.

 Mas Hudson ketika di acara peresmian :)

Setelah mendokumentasikan kegiatan yang sedang berlangsung, aku segera memfoto bangunan masjid itu. Kata mbak Onya, “Mumpung lagi sepi.”. Dan, ketika aku melihat masjid itu, aku langsung terpukau dengan desain, konsep, dan bahan yang digunakan untuk membangun masjid itu. Benar-benar klasik dan tradisional Jawa banget, adem ayem melihatnya. Kalau mau tau, seperti ini nih bangunannya.

Tulisan di pintu masuk.

Sisi sebelah barat.

 Sisi sebelah timur.

 Pintu masuk sebelum peresmian.

 Tempat Imam.

Langit-langit.
Tempat wudlu.

Setelah dilangsungkannya acara penandatanganan batu peresmian oleh bupati Bantul, mas Hudson menyerahkan santunan kepada beberapa anak yatim. Tidak lupa juga sesi pemotretan dengan para tamu dan panitia. Hahahaha, lucu memang tingkah para panitia itu.



 Acara peresmian masjid itu pun selesai sekitar pukul 12.00. Mas Hudson pergi terlebih dulu menuju rumah makan, sementara aku, mbak Onya, mbak Ade dan beberapa anggota keluarga yang lain menunggu anggota keluarga yang sedang melaksanakan sholat Dzuhur. Sekitar pukul 12.30 kami berangkat menuju rumah makan dan berpamitan dengan para panitia yang masih berada di situ.

read more “Sweetest Experience part I”

Tragedi Dompet


Sekitar 3 minggu yang lalu, aku dan teman-temanku memutuskan untuk melaksanakan kuliah umum morfologi di Yogyakarta daripada di Jakarta dan Ciamis. Karena menurut kami, di Yogyakarta lebih efisien, baik dari segi waktu maupun biaya. Jujur aku sangat senang dan mendukung keputusan itu, karena kabarnya kuliah umum morfologi akan dilaksanakan di UGM. Satu-satunya hal yang terpikir adalah,”Yes, bisa ketemuan sama Chicha nih!” Hahahaha di saat teman-temanku yang lain memikirkan tentang kuliah umum aku malah memikirkan hal yang lain. Akan tetapi kebahagiaanku itu memudar ketika seminggu yang lalu aku mendapat kabar bahwa kuliah umum tidak jadi diadakan di UGM, melainkan di Balai Bahasa Yogyakarta. “Yaaaahh, gagal rencanaku ketemu ama Chicha.”, itulah yang aku pikirkan.

read more “Tragedi Dompet”